TURISIAN.com – Park Eun Jeong tak membutuhkan waktu lama di Bandara Shanghai. Kurang dari 15 menit, wisatawan berusia 46 tahun asal Korea Selatan itu sudah mengantongi pengembalian pajak.
Pajak atas pembelian dua barang belanjaannya: selendang bermotif peony dan kupu-kupu serta syal sutra bordir tangan.
Tak ada antrean panjang, tak ada formulir berbelit. Ia memilih mesin swalayan.
“Prosesnya sangat lancar,” kata Park.
Ia cukup memindai paspor dan struk belanja, mengikuti instruksi di layar, lalu menunggu sistem memverifikasi data.
Beberapa menit kemudian, dana pengembalian pajak langsung masuk ke akun WeChat Pay miliknya.
Pengalaman Park mencerminkan wajah baru pariwisata China. Pemerintah Negeri Tirai Bambu tengah menggenjot daya tarik wisata sekaligus konsumsi dengan dua instrumen utama. Yakni, perluasan kebijakan bebas visa dan penyederhanaan layanan pengembalian pajak bagi wisatawan asing.
Kombinasi ini membuat “travel to China” dan “shopping in China” kian populer.
Selama libur Tahun Baru 2026, pemesanan tiket objek wisata oleh wisatawan mancanegara melonjak 110 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut Trip.com Group.
Sementara itu Data Administrasi Imigrasi Nasional China mencatat perjalanan lintas batas oleh pengunjung asing mencapai 828 ribu, naik 29,8 persen dari tahun 2025.
Belanja pun menjadi agenda penting dalam perjalanan wisata. Selain menikmati lanskap alam dan kekayaan budaya, wisatawan asing kini memanfaatkan kemudahan berbelanja di China.
Lonjakan konsumsi inbound ini menegaskan keterbukaan ekonomi China yang semakin agresif—sekaligus menjadi suntikan baru bagi pertumbuhan ekonomi.
BACA JUGA: China Hi-Tech Fair 2025, Parade Teknologi Masa Depan di Shenzhen
Perjalanan Lebih Mudah, Belanja Lebih Ringan
Bagi fotografer asal Italia, Simona Maria Cannone, kebijakan bebas visa 30 hari membuat perjalanan ke China terasa sesederhana bepergian antarnegara di Eropa.
Bersama suaminya, Cannone menghabiskan sebulan menjelajahi Provinsi Yunnan—dari Kunming, Dali, hingga Honghe.
“Kami sangat terbiasa dengan kereta api di Eropa, dan kereta cepat China benar-benar mengesankan dari sisi efisiensi dan ketepatan waktu,” ujarnya.
Kemudahan perjalanan itu ditopang oleh reformasi kebijakan pengembalian pajak keberangkatan.
Ambang batas pembelian diturunkan, jumlah toko yang memenuhi syarat diperluas, dan yang paling signifikan, pengembalian pajak instan.
Wisatawan tak perlu menunggu di bandara; dana bisa langsung diterima di toko.
Sedangkan di Hisense Plaza, Qingdao, Kim Do Hoon asal Korea Selatan merasakan manfaat kebijakan itu.
Setelah membeli tas di butik Bottega Veneta, ia langsung menerima pengembalian pajak sebesar 2.070 yuan.
“Jauh lebih mudah dari yang saya bayangkan,” katanya.
Menurut Zhang Yu, manajer Hisense Plaza, hampir 300 merek di mal tersebut kini menyediakan layanan pengembalian pajak instan—terutama untuk aksesori, tas, dan busana.
Minat wisatawan asing pun mulai bergeser, tak hanya pada merek global, tapi juga produk China seperti ponsel Huawei dan drone DJI.
Secara nasional, dalam 11 bulan pertama 2025, jumlah wisatawan asing yang mengajukan pengembalian pajak melonjak 285 persen secara tahunan.
Penjualan barang kena pengembalian pajak serta total dana yang dikembalikan naik hampir 99 persen.
Hingga akhir November 2025, terdapat 12.252 toko pengembalian pajak keberangkatan di China, lebih dari 7.000 di antaranya menawarkan pengembalian instan.
Mesin Pertumbuhan Baru
Di Distrik Xuhui, Shanghai, sebuah toko busana bergaya Neo Chinese Style turut menikmati limpahan kebijakan ini.
Toko yang dibuka April 2025 itu segera mendaftar sebagai penyedia pengembalian pajak instan setelah dihubungi otoritas pajak setempat.
“Banyak pelanggan asing yang menggunakan layanan ini,” kata Tian Ling, direktur toko tersebut.
Hambatan bahasa tak lagi menjadi soal. Staf menggunakan aplikasi terjemahan, sementara petugas pajak siap memberi bantuan daring secara real time.
Ke depan, pemerintah China ingin melangkah lebih jauh. Dalam rekomendasi penyusunan Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), Beijing menargetkan pengembangan lebih banyak kota menjadi pusat konsumsi internasional dan memperluas konsumsi inbound.
Sementara Peneliti China Center for International Economic Exchanges, Liu Xiangdong, menilai strategi ini tak hanya mendongkrak pariwisata. Tapi juga mampu merangsang konsumsi dan investasi domestik.
Saat ini, belanja wisatawan asing baru menyumbang sekitar 0,5 persen PDB China. Jauh di bawah negara-negara besar lain yang mencapai 1 hingga 3 persen.
Untuk mengejar ketertinggalan itu, Liu mengusulkan integrasi toko bebas bea dan gerai pengembalian pajak dengan destinasi budaya dan wisata—konsep “shopping plus tourism”.
Ia juga mendorong perluasan toko bebas bea di pusat kota serta pengembangan aplikasi belanja multibahasa.
Wakil Menteri Perdagangan Sheng Qiuping menegaskan arah kebijakan tersebut.
China, kata dia, akan terus memperluas akses bebas visa, menyempurnakan layanan pengembalian pajak, dan membangun kota-kota konsumsi kelas dunia.
“Kami ingin konsumen global datang ke China dengan lebih mudah, bepergian dengan nyaman, dan berbelanja dengan nilai yang lebih baik,” ujarnya.
“Dengan begitu, mereka dapat merasakan China yang semakin terbuka, inklusif, dan inovatif,” pungkasnya. ***





