Cihapit dan Braga, Perkuat Denyut Ekraf di Kota Bandung Selama Libur Natal dan Tahun Baru

Libur Natal
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Iendra Sofyan saat meninjau salah satu outlet industri kreatif di Kota Bandung, Jumat 2 Januari 2025. (Foto: Dok.Kemenekraf)

TURISIAN.com – Libur Natal dan Tahun Baru memberi Bandung panggung yang ramai. Di tengah arus wisatawan yang memadati sudut-sudut kota, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya meninjau langsung denyut ekonomi kreatif yang hidup di ruang-ruang kota.

Kawasan Braga dan Pasar Cihapit dipilih sebagai etalase—tempat karya, gagasan, dan produk lokal bertemu dengan publik yang lebih luas.

“Momentum libur Nataru menjadi kesempatan penting bagi pegiat ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya dan kekayaan intelektual lokal,” kata Riefky di Bandung, Jumat, 2 Januari 2026.

Bagi dia, ruang kreatif di daerah bukan sekadar tempat berjualan. Melainkan etalase yang memperlihatkan arah pertumbuhan ekonomi kreatif. Sekaligus mempertegas posisi Bandung sebagai kota kreatif.

Di kawasan Braga, Riefky menyambangi dua ruang kreatif: Braga Grey Art dan Tahilalats Store.

Di Braga Grey Art, ia berdialog dengan pegiat lintas subsektor ekonomi kreatif.

Penguatan Ekosistem

Percakapan itu berisi harapan lama yang berulang—soal penguatan ekosistem, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.

Riefky menegaskan peran kementeriannya sebagai akselerator sekaligus enabler. Pendekatannya melalui kolaborasi hexahelix: pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, dan lembaga keuangan.

“Strateginya jelas. Local hero kita dorong naik ke tingkat nasional, dan yang sudah kuat di nasional kita bawa ke pasar global,” ujarnya.

Dari daerah, kata dia, daya saing karya dan IP lokal dibangun secara berkelanjutan.

Di Tahilalats Store, Riefky menyoroti pemanfaatan IP lokal yang bertransformasi dari ruang digital ke ruang fisik.

Ritel berbasis IP ini, menurutnya, memperluas interaksi dengan konsumen dan memperpanjang umur ekonomi sebuah karya.

“Melalui ruang kreatif dan pasar ekraf di daerah, kita mendorong karya dan IP lokal semakin dikenal, diapresiasi, dan bernilai ekonomi,” katanya.

Perjalanan berlanjut ke Pasar Cihapit. Di pasar yang kerap menjadi destinasi kuliner ini, Riefky melihat langsung bagaimana ekonomi kreatif bertemu dengan konsumsi harian.

Sementara itu pelaku subsektor kuliner seperti Batagor Kahuripan, Toko Kopi Pasar Cihapit, dan Cerita Manis memanfaatkan libur awal tahun untuk mendongkrak penjualan.

Sekaligus memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung.

Menurut Riefky, pasar kuliner memiliki posisi strategis dalam rantai nilai ekonomi kreatif.

Perputaran Ekonomi

Di sinilah transaksi terjadi secara langsung, perputaran ekonomi berlangsung cepat, dan daya tarik wisata kota ikut terangkat.

Tak hanya kuliner, subsektor fesyen dan ritel kreatif juga hadir di kawasan ini.

Sedangkan Damakara sebagai jenama fesyen lokal serta Grammars sebagai ruang ritel gaya hidup menunjukkan bagaimana beragam produk kreatif dapat tumbuh dalam satu ekosistem pasar.

Keberagaman subsektor dalam satu kawasan, kata Riefky, memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan daya tarik kawasan bagi pengunjung.

Aktivitas pasar ekonomi kreatif selama libur Nataru turut menggerakkan wisata berbasis ekonomi kreatif dan UMKM. Hal ini sejalan dengan upaya optimalisasi pasar ekraf sebagai bagian dari Asta Ekraf.

“Melalui pasar ekonomi kreatif, produk dan bisnis lokal semakin dikenal dan dibeli masyarakat,” ujar Riefky.

“Dari daerah inilah ekonomi kreatif akan tumbuh menjadi mesin pertumbuhan baru,” pungkasnya. ***

Pos terkait