TURISIAN.com – Tawa menjelma statistik. Agak Laen Menyala Pantiku melampaui sekadar film komedi dan mencatatkan diri sebagai tonggak baru dalam sejarah perfilman Indonesia.
Hingga 2 Januari 2026, film ini telah ditonton sekitar 10,25 juta orang di bioskop. Angka yang menempatkannya di puncak daftar film Indonesia terlaris sepanjang masa.
Capaian tersebut menggeser rekor yang sebelumnya dipegang film animasi JUMBO rilisan 2025.
Dimana film ini sempat menyalip KKN di Desa Penari, film horor yang lama bercokol sebagai raja box office nasional.
Pergeseran ini menandai perubahan selera penonton: dari teror menuju humor, dari ketegangan menuju tawa kolektif.
Sementara itu bagi Muhadkly Acho, sutradara film ini, angka jutaan penonton bukan sekadar prestasi personal.
Dalam keterangan resmi yang dibagikan Sabtu 3 Januari 2026, ia menyebut keberhasilan film tersebut sebagai buah dari dukungan publik yang tak putus sejak hari pertama penayangan.
BACA JUGA: Syuting Film Para Perasuk Jadi Tantangan Maudy Ayunda, Perannya Butuh Ketahanan Fisik
Film Nasional
“Terima kasih untuk seluruh penonton yang telah mendukung film ini hingga akhirnya mencapai titik ini, sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa,” ujarnya.
Kesuksesan Agak Laen Menyala Pantiku turut mengerek performa industri film nasional secara keseluruhan.
Sepanjang 2025, jumlah penonton film Indonesia tercatat menembus lebih dari 80 juta orang.
Sebuah angka yang memperlihatkan kebangkitan layar lebar lokal setelah sempat limbung oleh pandemi dan dominasi film impor.
Film ini merupakan sekuel mandiri dari Agak Laen yang tayang pada 2024.
Meski tidak terikat langsung secara naratif, lanjutan ini tetap mempertahankan humor khas—absurd, spontan, dan dekat dengan keseharian—yang menjadi identitasnya.
Tawa tidak dipaksa, melainkan mengalir dari dialog dan situasi yang terasa akrab bagi penonton.
Sejak pertama kali diputar pada 27 November 2025, film ini mengandalkan magnet komika populer seperti Boris Bokir, Bene Dion, Indra Jegel, dan Oki Rengga.
Sedangkan kehadiran mereka bukan hanya menjadi daya tarik komersial. Tetapi juga memperkuat posisi komedi sebagai genre yang kembali menemukan momentumnya di bioskop Indonesia.
Di tengah industri yang kerap bertaruh pada formula aman, Agak Laen Menyala Pantiku menunjukkan bahwa tawa—jika digarap dengan jujur dan cerdas—masih menjadi kekuatan paling ampuh.
Paling tidak untuk menggerakkan jutaan orang ke ruang gelap bernama bioskop. ***





